Ide Bisnis yang Lebih Baik

Thursday, August 27, 2015

Berbisnis Itu Memanusiakan Orang Lain

“Bolehkah saya mengoleskan sedikit krim di kulit Anda untuk menunjukkan betapa krim ini membuat Anda merasa segar dan nyaman?” Itulah permintaan santun yang diajukan Estée Lauder, saat itu ia sudah lumayan popular di negerinya, AS, kepada editor majalah Queen. “Tentu saja tidak boleh!” bentak editor tersebut.

Mungkin, sebagai tenaga penjual, Anda biasa melakukan apa yang di zaman Estée Lauder dianggap kurang sopan. Tapi, beranikah Anda melakukan ‘cara nekat’ Estée Lauder untuk menarik perhatian publik?

Suatu ketika Estée terbang ke Paris dan mengunjungi pusat perbelanjaan Galeries Lafayette yang mashur itu. Pejabat bagian pembelian di galeri ini berkali-kali menolak menemuinya. Estée lantas menunjukkan kemarahannya. Ia melakukan apa yang tidak setiap orang berani atau setidaknya memikirkan untuk melakukannya. Estée ‘pura-pura tak sengaja’ menumpahkan minyak mandi (bath oil) Youth Dew buatannya ke lantai. Ia  perhatikan, ketika semerbak harumnya yang bernuansa manis mengisi ruang udara toko, para pengunjung ternyata menyukainya. Segeralah, para wanita Prancis yang ada di toko itu menyerbu produk Youth Dew-nya.

Lewat cerita para CEO yang sudah wafat, di antaranya Estée Lauder—sebab itu, ia menjuduli bukunya New Ideas from Dead CEOs, Todd Buchholz mengilhami kita bahwa salah satu modal terpenting jika ingin sukses ialah bersikap gigih, tahan banting, dan bahkan dalam beberapa hal bersikap ‘tebal muka.’ Memang ada bakat dan sejenis keberuntungan, tapi semua kisah CEO yang ditelisik Buchholz dalam buku ini menyingkapkan tentang pentingnya berpegang teguh pada satu keyakinan dan semangat yang gigih untuk memperjuangkannya.

Kisah tentang para penemu, inventor, inovator, manajer sukses, sudah banyak dipaparkan, namun Buchholz sanggup menelisik ke dalam jiwa para CEO ini dan menemukan hal-hal yang jarang terungkap. Salah satu temuan Buchholz ialah adanya satu tema sosial yang mempersatukan para CEO ini, bahwa mereka meyakini manusia yang berkumpul dan membentuk ‘gerombolan padat’ akan tetap mampu bernapas lega. Gerombolan padat ialah orang-orang yang ada di jalanan, mereka yang bekerja siang-malam di pabrik-pabrik, pedagang yang berdesakan di pasar-pasar.

Para CEO yang dikisahkan Buchholz ini bertaruh demi martabat manusia, demi kehidupan yang lebih baik. Giannini, umpamanya, memberi pinjaman kepada mereka yang terlihat lusuh dan kumal. Disney membayangkan sebuah taman yang dapat mengundang kedatangan para pekerja kelas rendah untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka. Mary Kay, seperti halnya Estée Lauder, bersikeras bahwa wanita kelas pekerja sekalipun dapat memiliki kulit sehalus bintang-bintang Hollywood.

Di antara kebiasaan para bankir pada masa itu, yang hanya mau tersenyum ramah kepada orang-orang yang kerepotan menaruh uangnya di bawah bantal, Giannini sungguh lain. Imigran dari Italia ini membidik orang-orang kecil. Baginya, meminjamkan uang pada orang-orang kecil bukanlah sumbangan sosial. Itu justru bisnis yang sangat bagus, dan ia percaya bahwa orang-orang yang disepelekan para bankir ‘tradisional’ itu bukan pengemplang kredit seperti dibayangkan oleh sebagian orang kaya.

Bahkan kemudian, ketika sejumlah perusahaan besar tumbang, Giannini menyadari bahwa monster raksasa bernilai jutaan dolar mungkin tidak memiliki daya tahan setangguh sandwich isi daging asap yang lezat, seperti yang disajikan di Carnegie Deli, restoran kecil yang terkenal sejak 1937. Bertahun-tahun kemudian, ia bersaksi di depan Kongres dan menjelaskan, “Orang-orang kecil adalah nasabah terbaik yang dapat dimiliki oleh sebuah bank.. Ia memulai bisnisnya dengan Anda dan terus bertahan hingga akhir. Sementara itu, orang-orang besar hanya bersama Anda selama ada sesuatu yang dapat mereka peroleh dari Anda.”

Ada sejumlah pertimbangan mengapa nama Ray Kroc dan Walt Disney masuk, sedangkan nama-yang-mungkin-Anda-kenal tidak. Pertama, mereka harus penemu, bukan sekedar manajer yang berprestasi luar biasa. Kedua, mereka harus menarik—setidaknya di mata Buchholz. Mereka mengajari kita tentang kekuatan yang membuat abad ke-20 menjadi begitu meningkat dalam hal teknologi dan brutal dalam politik. Ketiga, yang terpenting, para CEO ini memberi pelajaran yang dapat kita terapkan hari ini. Relevansi dari nilai-nilai mereka tidak kunjung pudar.

Tentu saja, Akio Morita—juga Estée Lauder, Walt Disney, ataupun Sam Walton—pernah gagal. Mereka juga kenyang mendengar kata “tidak,” komentar menjengkelkan dari orang lain, dan nyanyian bahagia orang lain di atas kegagalan mereka. Namun mereka maju terus dengan tenaga yang dipompakan oleh semangat, ego, dan harapan akan kejayaan. Buku ini adalah kumpulan kisah manusia yang pantang menyerah, meyakini bahwa sesudah kesulitan pasti datang kemudahan—bukan hanya di lidah, bahwa terjun dalam bisnis bukanlah perkara mencari untung semata.

Ketika akhirnya menemukan dan memilih kata ‘Sony’ untuk merek produknya, Akio Morita mengatakan bahwa itu bukan sekadar strategi belaka. Sony berasal dari kata sonus dalam bahasa Latin, yang berarti bunyi. Ia memilih Sony, bukan Sonny; sebab, Sonny akan dilafalkan orang Jepang sebagai sohn-nee, yang berarti sang pecundang uang. Akhirnya Sony bukan sekedar merek dagang, tapi juga nama korporat. Artinya, di dalamnya terkandung tanggung jawab dan jaminan akan mutu produk—keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada orang lain.

Sejumlah kiat bisnis, pemasaran, produksi dapat dipetik dari para CEO yang sudah wafat ini. Namun, pelajaran yang paling berharga ialah bagaimana mereka telah menunjukkan bahwa siapapun berhak dihormati dan diperlakukan sebagai manusia—mereka yang tidak cukup punya uang sekalipun; bahwa orang yang ingin sukses harus mau bangun dari tempat tidurnya pada pukul tiga pagi; dan jangan pernah bersikap pesimistis. ***

Reblog from Indonesiana
By Dian Basuki









0 comments:

Post a Comment