Ide Bisnis yang Lebih Baik

Wednesday, July 8, 2015

Duo Google, Orang yang Tepat di Saat yang Tepat


Setelah sepuluh tahun menempati posisi chief executive officer (CEO) Google sejak 2001, Eric Schmidt akhirnya menyerahkan jabatan itu kepada Larry Page. Bersama Sergey Brin, Page adalah pendiri Google. Kedua anak muda ini merekrut Schmidt untuk jadi CEO karena tuntutan keadaan: keduanya tidak memiliki pengalaman menjalankan perusahaan. Page lalu memimpin Google memasuki era baru mobile dan komputasi awan, sedangkan Schmidt tidak meninggalkan Google, melainkan menempati posisi baru sebagai Executive Chairman.

Kini Google telah beranak-pinak, mengembangkan Android, menyemaikan YouTube, membangun Chrome, dan entah apa lagi selanjutnya. Page dan Brin bukan lagi pemilik tunggal, sebab perusahaan yang mereka dirikan kini sudah menjadi milik publik. Page memang pernah menjadi CEO, tapi itu ketika Google masih bayi. Keduanya bukan lagi anak muda yang segan membicarakan ihwal mencari uang dari teknologi, seperti pernah diceritakan oleh Andrei Broder.

Sekitar tahun 1998, Broder yang bekerja sebagai peneliti di Pusat Riset Sistem, di Silicon Valley, kerap mengajak Page dan Brin untuk minum kopi sembari ngobrol. Broder terkesan oleh kecerdasan kedua mahasiswa pascasarjana di Universitas Stanford itu. Ia ingat ketika obrolan beralih ke topik bagaimana menghasilkan uang dari teknologi, Larry Page memiliki sudut pandang yang berbeda. “Ia bersikukuh bahwa sebaiknya mesin pencari tidak dimiliki oleh perusahaan komersial. Katanya, hal itu sebaiknya dilakukan oleh perusahaan nirlaba. Namun saya kira Larry sudah berubah pikiran tentang hal itu,” ujar Brade.

Dalam makalahnya yang banyak dikutip, Sergey Brin menyebut layanan yang didukung iklan sebagai pengaruh yang merusak. “Mesin pencari yang didanai iklan akan dibuat bias ke arah pemasang iklan dan tidak memenuhi kebutuhan konsumen,” tulis Brin. Dipandu oleh keyakinan etis ini, kedua anak muda tersebut mengembangkan cara-cara matematis untuk menyelesaikan pencarian halaman web yang memuat topik tertentu.

Sebelum diluncurkan untuk publik, mesin pencari Google sempat dicoba di lingkungan Universitas Stanford, tempat kedua anak muda ini mengambil program doktor yang tak mereka selesaikan. Mesin pencari ini segera menjadi popular di kalangan mahasiswa dan dosen hingga keduanya menyadari bahwa “kita dapat berbuat sesuatu dengan mesin ini”. Kita mungkin tidak akan mengenal Google seperti sekarang seandainya Brin dan Page menemukan orang yang tepat untuk membeli teknologi yang mereka temukan.

Setelah bertemu sekian banyak orang, dan tak satupun mencapai kesepakatan dengan mereka, akhirnya, pada 1998, Larry dan Sergey memilih bekerja sendiri dan mencari dana untuk membiayainya. Orang pertama yang menuliskan cek untuk Google Inc. adalah Andy Bechtolsheim, senilai $100.000 sebelum perusahaan ini berdiri.

Upaya pasangan ini untuk memperoleh dana guna membiayai Google Inc. menggambarkan betapa Brin dan Page sejak awal membiasakan diri menjadi pemenang. Keduanya dianggap sebagai perunding hebat yang mampu menaklukkan dua perusahaan investasi dengan tidak memberikan kendali Google pada mereka. Padahal, banyak perusahaan baru yang justru merasa beruntung bila berhasil menarik dana investor, sekalipun bila hal itu harus ditukar dengan sejumlah kursi direksi.

Semangat untuk tidak menjadikan uang sebagai tujuan utama dalam membentuk perusahaan terus dipelihara oleh Brin dan Page. Google sejak awal dikenal sebagai tempat menyenangkan untuk bekerja. Banyak ilmuwan komputer dan insinyur yang bergabung dengan Google terinfeksi oleh keinginan melakukan sesuatu yang luar biasa. Inilah wabah yang disebarkan oleh Brin dan Page. Semangat ini pula yang mampu menyedot otak-otak cerdas dari Stanford, bahkan sebagian mereka akhirnya memilih bekerja di Google ketimbang menyelesaikan program doktoralnya.

Apa yang membuat Google sukses, menurut Richard L. Brandt—penulis buku Inside Larry & Sergey’s Brain, ialah karena keduanya memiliki intuisi yang memberi petunjuk tentang arah yang tepat, seperti sebuah anak panah yang meluncur ke pusat target. Keduanya sangat keras kepala, berani hingga titik penghabisan, dan diilhami oleh kepekaan terhadap kesempurnaan kaum muda. Mereka orang yang tepat di saat yang tepat.

Jim Barnett, pendiri Turn, perusahaan periklanan digital berbasis data, membandingkan Larry Page dan Sergey Brin dengan Steve Jobs. “Saya tidak akan memakai kata idealistis,” kata Barnett, “tetapi mereka berdiri di atas misinya dan akan tetap setia pada visinya. Mereka otentik dan berkomitmen serta didasari oleh nilai-nilai.”

Ketika mengajukan penawaran saham publiknya yang pertama pada 2004, Brin dan Page memasukkan pernyataan seperti ini dalam surat mereka ke Wall Street: “Mencari dan menata semua informasi di dunia adalah suatu tugas istimewa yang penting, yang seharusnya dikerjakan oleh perusahaan yang dipercaya dan tertarik pada kebaikan publik.”

Salah satu manifestasi dari semangat menata informasi di tengah kekacauan ini ialah dengan menciptakan home page Google yang bersih, tidak berisi apapun selain kotak pencari dan sedikit kata dan gambar ilustrasi. Hasil akhirnya adalah pengalaman pelanggan yang luar biasa. Home page tersebut bersih, cepat, dan mudah. Kesederhanaan menjadi jawaban atas derasnya arus informasi.

Walaupun dedikasi menjadi bersih dari iklan merupakan faktor kunci kesuksesan Google, bukan berarti Page dan Brin tidak memikirkan bagaimana mendapatkan uang. Yang sempat terpikir di masa-masa awal Google ialah dua cara: memasang iklan atau co-branding yakni menyediakan mesin pencari yang membantu mencari situs lain. Kendati begitu, gagasan itu tak pernah dituangkan dalam rencana bisnis, yang herannya para investornya jarang menanyakan hal itu.

Google pada akhirnya menggarap serius iklan, dan sebagaimana kebiasaan Page dan Brin, Google menggunakan pendekatan etis dan ilmiah. Sistem Google memakai algoritma komputer untuk menganalisis data di suatu situs Web dan memilih iklan mana yang paling sering diklik oleh pengunjung situs tersebut. Tapi ternyata sudah ada perusahaan lain yang juga menyaring informasi seperti cara yang dibayangkan Google. Sistem bernama AdSense itu dimiliki oleh Applied Semantics, yang kemudian diakuisisi oleh Google dan menjadikannya perusahaan yang dominan dalam jagat iklan online.

Ketika akhirnya Larry Page memimpin bisnis Google, ia harus meyakinkan banyak pihak bahwa ia siap menjadi CEO sembari melepaskan diri dari bayang-bayang Schmidt. Page juga tak bisa lagi menjadi pribadi yang “kurang gaul” sebab ia mewakili perusahaan raksasa yang sepak terjangnya memengaruhi banyak pihak, termasuk masyarakat luas dan bahkan negara.(***)

Reblog from Indonesiana
By Dian Basuki

0 comments:

Post a Comment