NotaBisnis

Ide Bisnis yang Lebih Baik

Saturday, September 5, 2015

Memperingati Hari Pelanggan Nasional

Setiap manusia adalah pelanggan. Entah itu kapasitas seseorang sebagai pengusaha, tetap saja ia disebut pelanggan ketika berlangganan (pengguna) terhadap produk mau pun jasa di luar produk mau pun jasa yang ia jalankan. Dan setiap masyarakat sudah barang tentu adalah sebagai pelanggan dari bermacam-macam produk mau pun jasa.

Tepat 4 September 2015, bangsa kita memperingati Hari Pelanggan Nasional. Hari di mana pelanggan mendapatkan layanan spesial dari pihak penjual produk mau pun jasa. Tradisi ini cukup diresponi oleh setiap pelanggan (customer), karena di hari ini paling tidak pelanggan mendapatkan sambutan hangat dari dari customer service sembari mengumandangkan 'Selamat Hari Pelanggan Nasional'.

Sebut saja hal semcam ini terjadi di sebuat Bank Swasta Nasional di Kota Pematangsiantar. Hari ini disaat saya hendak menyetorkan tabungan dari anak-anak kami, sesaat sebelum menyetorkan tabungan tersebut ke teller, pihak Bank melalui beberapa customer servicenya, menyambut hangat nasabah (pelanggan) dan berusaha mencegat sambil memohon ijin minta waktu beberapa menit untuk bagi-bagi hadiah kepada pelanggannya.

Nah...saya sendiri dari sekian pelanggan yang mendapatkan layanan spesial di Hari Pelanggan Nasional, dipersilahkan mengambil kuis untuk disuguhi pertanyaan. Pertanyaan pun dilayangkan dan alhasil saya pun berhasil menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh customer service Bank Swasta tersebut. Oleh karenanya, saya  pun mendapatkan kompensasi berupa hadiah yakni sebuah payung berlabelkan Logo Bank tersebut ukuran jumbo.

Senang rasanya mendapatkan layanan seperti ini. Bukanlah dari besarnya nilai hadiah tersebut. Tetapi layanan seperti ini adalah sudah memang seharusnya menjadi prioritas pihak dari penjual produk atau jasa karena cara demikian merupakan salah satu strategi bagaimana mengikat dan menjaga kepercayaan antara pelanggan (nasabah) dengan pihak bank.

Itu sebabnya istilah yang tidak jarang kita dengar bahwa pelanggan adalah raja. Raja dalam arti bukan untuk dipuja-puja layaknya Raja yang duduk di singgah sananya, melainkan pelanggan sesungguhnya harus mendapatkan layanan terbaik dari pihak penjual. Jikalau hal demikian tetap menjadi konsentrasi pihak perusahaan atau penjual, maka dapat dipastikan akan terjadi hubungan yang baik antara pihak penjual dan pembeli. Dan nilai kepercayaan (trust) akan produk atau pun jasa yang dipakai atau digunakan seseorang akan tetap terjaga dengan baik dikarenakan ada kepuasan akan produk mau pun jasa tersebut.

Mengakhiri catatan ini, saya mengapresiasi pihak Bank yang sudah melakukan layanan seperti yang saya alami dan juga sekaligus menghimbau kepada setiap penjual produk mau pun jasa lainnya agar supaya senantiasa tetap menghargai pelanggan dengan layanan terbaiknya karena sesungguhnya pelanggan adalah 'raja'.

Reblog from Kompasiana
By Abhotneo Naibaho

Wednesday, September 2, 2015

5 Saran "Sinting" Bob Sadino Buat Anak Muda

Siapa yang tidak mengenal Bob Sadino (biasa di panggil om Bob) ikon bisnis dan motivasi yang sudah banyak menghiasi dinamika bisnis di Indonesia.
Bob Sadino dikenal blak-blakan dalam menyampaikan seminar bisnis, dengan gayanya yang cuek dan selalu tampil dengan ciri khasnya yaitu celana pendek. Beberapa kali mengikuti seminar dan diskusinya, Anda pasti akan merekam statement-statement keras yang barangkali tidak lazim bagi Anda. Statement yang menyebabkan kontroversi, dan bahkan menyebabkan beberapa mahasiswa akhirnya keluar dan berhenti dari bangku kuliah.

Sebagai orang yang cerdas, apa yang disampaikannya terkadang tidak masuk di akal dan tidak logis. Itulah sebabnya Anda, apalagi yang masih belum banyak mengenal seminarnya beliau, harus menelaah dan mencermati apa maksud ungkapan beliau dan apa yang terkandung dari statement yang beliau sampaikan.
Selama mengikuti beberapa kali seminar yang beliau sampaikan, berikut ada beberapa catatan saya pribadi, yang menurut saya "sinting" jika kita menelan mentah-mentah apa yang disampaikan. Ini merupakan pendapat saya pribadi, Anda boleh sependapat, boleh juga tidak, itu hak Anda.
Coba simak statement yang sering beliau ungkapkan berikut ini.

1. "Jika ingin bahagia (Sukses) jangan jadi karyawan".


Di salah satu seminar beliau pernah menyatakan statement yang membuat gemuruh peserta adalah, bahwa 'jika ingin bahagia (sukses), jangan jadi karyawan'. Padahal peserta dari seminar itu adalah sebagian besar adalah karyawan, bayangkan!

Statement beliau ini menurut saya, tidak salah. Namun juga tidak sepenuhnya benar. Kebahagian dan kesuksesan itu tidak semata-mata diukur dari banyaknya materi, dan apa profesi seseorang. Lalu apakah hidup sebagai karyawan itu tidak bahagia? Tidak juga. Banyak karyawan yang bahagia dengan segala kondisinya. Tentu parameter kebahagian berbeda, beda setiap orang.

Apakah statement ini salah? Tidak juga. Memang peluang mencapai kebahagian dengan keberlimpahan materi akan lebih terasa jika kita menggapainya melalui bisnis, melalui dagang dan sukses. Tetapi tidak sedikit juga pengusaha yang terlilit hutang dan akhirnya sengsara. Sekali lagi pilihan sukses dan bahagia itu bergantung yang menjalani. Tentu dengan konsekuensi masing-masing memang dengan berbisnis, peluang seseorang untuk mencapai puncak kebahagian jauh lebih terbuka. 

2. "Kuliah itu bikin goblok, siapa yang hadir di seminar ini, besok jangan masuk kuliah"

Di seminar yang lain, beliau secara terang-terangan menyampaikan kalau kuliah itu kegiatan "goblok", dan menyuruh besok jangan masuk kuliah. Sangat frontal memang, menyampaikan statement seperti itu didepan ratusan mahasiswa dan akademisi.

Tentu saja banyak audience yang kemudian heboh dengan sendirinya, maklum sebagian peserta seminar itu adalah mahasiswa muda yang polos, lugu, dan baru semangatnya mencari jatidiri di kampus tercinta. Mendengar statement itu tentu batinnya berontak.

Namun kalau kita mau berpikir mendalam, apa yang disampaikan om Bob ini sebenarnya sangat masuk akal. Namun bagi sebagian orang ini justru menyesatkan, apalagi bagi MABA (mahasiswa Baru).

Maksud saya, jika Anda ingin mencapai karir bisnis Anda dengan otodidak dan belajar berjualan sablon printing, misalnya (seperti yang banyak dilakukan MABA saat membuat bisnis plan) terus apa gunanya kuliah, kalau yang dipelajari adalah science. Maka apa istilah yang tepat kalau bukan "goblok (versi Bob Sadino). Contoh lagi: bisnis di bidang hiburan padahal kuliahnya Psikologi, bisnis di bidang desain padahal kuliahnya di MIPA, bisnis makanan padahal kuliahnya di Teknik.
Bagaimana enggak goblok? apa yang susah-susah di pelajari, tidak dipakai dalam bisnis. Lalu bagaimana seharusnya? Anda seharusnya bisa menjawabnya.

3. "IPK di atas 3 koma alamat calon karyawan"


Ini ada salah satu fakta yang menarik. Kata Om Bob kalau kuliah kok IPK-nya diatas 3, itu tandanya calon karyawan. Hmm, sangat masuk akal, karena kecenderungan orang yang memiliki IPK bagus apalagi di fakultas favorit, tentu memiliki idealisme tinggi untuk mengaplikasikan ilmunya. Tidak lain adalah melamar kerja, di perusahaan dan menjadi karyawan.

Itulah mengapa justru Bob Sadino mengajarkan, kalau mau sukses bisnis IPK harus jeblok. Tidak salah sih. karena dengan demikian tidak memiliki pilihan lain selain berwirausaha, karena kalaupun mau melamar kerja juga tidak ada yang menerima karena IPK-nya dibawah standar, justru dengan demikian akan "terpaksa" memilih jalan entrepreneur. Lalu apa jadinya kalau IPK diatas 3, kemudian memilih berbisnis? Ada, tapi sangat sedikit.

Sekali lagi Life is a Choice, secara logika harusnya yang IPKnya diatas 3 ini jika diaplikasikan dalam bisnis harusnya lebih bagus lagi hasilnya, bukankah begitu?

4. "Kuliah itu hanya memasukkan "sampah" ke kepala Anda"

Salah satu saran "sinting" lainnya adalah "Kuliah itu memasukkan sampah ke kepala Anda". Bagi setiap orang yang masih kuliah mendengar statement ini pasti protes, tidak terkecuali peserta seminar yang notabene masih kuliah.

Mereka merasa apa yang dilakukan setiap hari berarti memasukkan sampah ke kepala mereka? Apakah ini salah? Tidak juga, karena memang apa yang dipelajari itu tidak dipakai di kemudian hari, jika kita bercita-cita menjadi bisnisman sukses seperti om Bob.

Apa sebabnya? Bob Sadino meniti karir bisnisnya dari nol dan mempelajarinya dari lapangan, dari pengalaman dan dari percobaannya sendiri. Makanya saat mempelajari sesuatu di bangku kuliah sementara apa yang dipelajari itu tidak dipakai maka apa yang dipelajari itu menjadi sampah bagi otak kita.

Satu statement yang menguatkan ini adalah bahwa dia berpesan, "Jadilah manusia pembelajar". Jangan hanya dari bangku kuliah, tapi pelajarilah dari kuliah kehidupan yang Anda jalani.


5. "Kalau ingin kaya, bisnis sayuran" 

Haha.. secara, awalnya beliau adalah pengusaha sayuran pantas saja usaha yang direkomendasikan adalah bisnis sayuran. Mengapa ini saya sebut "sinting"?
Tidak lain karena ini adalah tipikal orang yang konsisten dengan apa yang diucapkan. Dia mengajarkan apa yang dia lakukan, menunjukkan apa yang sudah dilalui - jadi tidak asal bunyi saja. Cerdas bukan?

By Nawadasa in Kaskus

Monday, August 31, 2015

PKPU Baja Utama Wirasta Inti (BUWI Group)

Proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Baja Utama Wirasta Inti atau BUWI Group, perusahaan baja asal Kota Medan, akhirnya dinyatakan selesai oleh Pengadilan Niaga Medan pada 31 Agustus 2015. Pengurus PKPU Johan Bastian Sihite juga mengumumkan perdamaian antar-kreditor BUWI Group telah disahkan. 

Kasus yang juga melibatkan pemilik BUWI Group, Jeffry Lim, membebankan biaya-biaya dan imbalan terkait proses keperdataan kepada dua pihak terkait tersebut. (***)